BerandaKerjasamaAdmin (IR)
Admin (IR)

Admin (IR)

Jumat, 01 September 2017 07:56

Edisi XIX, September 2017

Edisi / No  : Edisi XIX

Tahun      : September, 2017

ISSN        :

Penulis     :

Abstrak   :

 

A.        Konsep dan Tahapan Eksplorasi

Eksplorasi merupakan salah satu proses dalam rangkaian kegiatan industri pertambangan. Industri pertambangan dicirikan oleh beberapa faktor yaitu:

1.     Nilai investasi yang cukup besar

2.    Memiliki resiko yang cukup besar

3.    Membutuhkan sumberdaya yang besar

4.    Merubah bentuk lahan

Karena industri pertambangan memerlukan dana operasional yang sangat besar, maka akan menimbulkan resiko terhadap investasi di dunia pertambangan. Untuk mengurangi resiko tersebut maka pentahapan industri pertambangan harus dilakukan dengan strategi dan optimasi. Termasuk dalam hal ini adalah strategi dalam kegiatan eksplorasi, karena keberhasilan sebuah investasi pertambangan sangat ditentukan dari berhasilnya kegiatan eksplorasi.

Banyak definisi yang dapat diuraikan dalam istilah eksplorasi, namun dalam konteks ini secara umum, eksplorasi dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan untuk mencari, menemukan, dan mendapatkan suatu bahan tambang (bahan galian) yang kemudian secara ekonomi dapat dikembangkan untuk diusahakan. Secara konsep, dalam lingkup industri pertambangan, eksplorasi dinyatakan sebagai suatu usaha (kegiatan) yang karena faktor resiko geologi, dilakukan secara bertahap dan sistematik untuk mendapatkan suatu areal yang representatif untuk dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai areal penambangan (dieksploitasi). Dengan semakin detilnya kegiatan eksplorasi maka resiko geologi akan semakin menurun.

 

Secara lebih detil berikut merupakan beberapa alasan diperlukannya kegiatan eksplorasi yang sistematis:

1.          Dimensi dan bentuk endapan bahan galian tidak tentu karena perbedaan sifat-sifat fisik dan kimia endapan, baik secara vertikal maupun horisontal. Dalam hal ini metode eksplorasi yang diterapkan sangat tergantung pada tingkat kompleksitas endapannya. Semakin kompleks tipe endapan maka teknologi dan kerapatan data akan semakin tinggi.

2.     Endapan bahan galian bersifat tidak terbarukan sehingga akan habis jika ditambang. Kemajuan teknologi akan memberikan peluang untuk mendapatkan endapan baru. Dalam hal ini juga harus diperlukan eksplorasi yang berwawasan konservasi.

3.         Keterdapatan suatu endapan pada kerak bumi tidak merata, sehingga diperlukan strategi eksplorasi untuk mendapatkan adanya konsentrasi mineral.

4.          Permasalahan suppy – demand mineral, dimana permintaan jangka panjang komoditas diharapkan terus naik dengan laju cepat, sehingga selalu ada tantangan pada penyediaan yang dapat mengimbangi permintaan tersebut.

 Dalam kerangka melaksanakan eksplorasi yang sistematis dan strategis,secara umum tahapan eksplorasi dapat dibagi menjadi empat, yaitu survei tinjau (reconnaissance), prospeksi (prospecting), eksplorasi umum (general exploration), dan eksplorasi rinci (detailed exploration).

Definisi dari tahapan-tahapan eksplorasi tersebut menurut SNI 4726:2011 adalah sebagai berikut:

1.             Survei tinjau adalah tahap eksplorasi untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang berpotensi bagi keterdapatan mineral pada skala regional terutama berdasarkan hasil studi geologi regional, diantaranya pemetaan geologi regional, pemotretan udara, dan metode tidak langsung lainnya, dan inpeksi lapangan pendahuluan yang penarikan kesimpulannya berdasarkan ekstrapolasi. Tujuannyaadalah untuk mengidentifikasi daerah-daerha-anomali atau mineralisasi yang prosfektif untuk diselidiki lebih lanjut, Perkiraan kuantitas sebaiknya hanya dilakukan apabila datanya cukup tersedia atau ada kemiripan dengan cebakan lain yang mempunyai kondisi geologi yang sama.

2.            Prospeksi adalah tahap eksplorasi dengan jalan mempersempit daerah yang mengandung cebakan mineral yang potensial. Metode yang digunakan adalah pemetaan geologi untuk mengidentifikasi singkapan, dan metode yang tidak langsung seperti studi geokimia dan geofisika dengan skala yang diperlukan. Paritan yang terbatas, pengeboran dan pemercontohan mungkin juga dilaksanakan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi suatu cebakan mineral yang akan  menjdi target eksplorasi selanjutnya. Estimasi kuantitas dihitung berdasarkan interpretasi data geologi, geokimia, dan geofisika.

3.            Eksplorasi umum adalah tahap eksplorasi yang merupakan delineasi awal dari suatu cebakan yang teridentifikasi. Selanjutnya metode yang digunakan termasuk pemetaan geologi, pemercontohan dengan jarak yang lebar, membuat puritan dan pengeboran untuk evaluasi pendahuluan kuantitas dan kualitas dari suatu cebakan mineral berdasarkan metode penyelidikan tak langsung. Tujuannya dalaj untuk menentukan gambaran geologi suatu cebakan mineral berdasarkan indikasi sebaran, perkiraan awal mengenai ukuran, bentuk, sebaran, kuantitas dan kualitasnya.

4.            Eksplorasi rinci adalah tahap eksplorasi untuk mendeliniasi secara rinci dalam 3-dimensi terhadap cebakan mineral yang telah diketahui dari pemercontohan sedemikian rapat sehingga ukuran, bentuk, sebaran, kuantitas dan kualitas dan cirri-ciri yang lain dari cebakan mineral tersebut dapat ditentukan dengan tingkat ketelitian yang tinggi.

 

Gambar 3. menunjukkan skematis tahapan eksplorasi yang umumnya diterapkan dalam eksplorasi bahan galian. Hal yang perlu dicatat di sini adalah bahwa kegiatan eksplorasi akan menghasilkan jumlah potensi dalam klasifikasi sumberdaya. Jumlah cadangan belum dapat diestimasi dalam kegiatan eksplorasi. Estimasi cadangan baru dilakukan pada tahapan studi kelayakan dimana aspek-aspek teknis dan non teknis dipertimbangkan untuk mengoptimasi jumlah potensi bahan galian yang dapat ditambang (cadangan).

Dilihat dari cara interpretasinya, metode eksplorasi dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu metode eksplorasi langsung dan tidak langsung. Interpretasi metode eksplorasi langsung dilakukan dengan langsung mengamati obyek endapan yang dieksplorasi, sedangkan interpretasi metode tidak langsung dilakukan dengan mengamati anomali-anomali dari sifat fisika dan kimia endapan yang terukur oleh alat.

Secara umum metode-metode eksplorasi tidak langsung diterapkan pada tahapan eksplorasi awal karena dapat mencakup daerah yang luas sehingga harga eksplorasi per satuan luas menjadi lebih murah. Metode eksplorasi tidak langsung sangat aplikatif untuk menciutkan cakupan wilayah eksplorasi yaitu dengan meninggalkan wilayah-wilayah yang tidak terdeteksi adanya anomali. Metode-metode eksplorasi langsung umumnya diterapkan pada tahapan eksplorasi lanjutan atau detil di wilayah yang sebelumnya diindikasikan adanya anomali-anomali pada pengukuran eksplorasi tidak langsung.

 Metode eksplorasi tidak langsung mencakup penginderaan jauh, eksplorasi geokimia, dan eksplorasi geokimia. Metode eksplorasi langsung dapat dilakukan dengan pemetaan, parit uji, sumur uji, dan pengeboran. Tabel 2.1. menunjukkan klasifikasi metode eksplorasi tidak langsung dan eksplorasi langsung serta sifat-sifatnya.


 

Eksplorasi Tidak Langsung

Eksplorasi Langsung

Kegiatan umum

Tidak berhubungan (kontak) langsung dengan objek yang dieksplorasi

Langsung berhubungan (kontak) dengan objek yang dieksplorasi

Prinsip pekerjaan

Memanfaatkan sifat-sifat fisik/kimia dari endapan

Melakukan pengamatan/penyelidikan secara langsung terhadap terhadap endapan secara fisik

Identifikasi

Melalui anomali-anomali yang diperoleh dari hasil pengamatan/pengukuran

Melakukan analisis megaskopis dan mikroskopis terhadap objek penyelidikan

Metoda

Penginderaan jarak jauh, survei geokimia, survei geofisika

Pemetaan, uji sumur, uji parit, pemboran

Tahapan eksplorasi

Digunakan pada tahapan Reconnaissance (Eksplorasi Pendahuluan) s/d Prospeksi

Digunakan pada tahapan Prospeksi ®Finding (Eksplorasi Detail)

Teknologi

Membutuhkan peralatan (teknologi) relatif tinggi

Membutuhkan teknologi yang lebih sederhana s/d manual

Biaya

Biaya per satuan luas murah

Biaya per satuan luas mahal

Waktu

Relatif cepat

Memerlukan waktu lebih lama

 Tabel 2.1. Perbandingan metode eksplorasi tidak langsung dan eksplorasi langsung.

 

A.        Pengawasan Tahapan dan Metode Eksplorasi

 

1.         Dokumen dan isu Penting

 Dalam sebuah kegiatan eksplorasi, perusahaan akan membuat sebuah laporan yang menyeluruh mencakup semua jenis kegiatan, metode dan peralatan yang dipergunakan, serta hasil yang diperoleh. Sebuah dokumen laporan eksplorasi harus dapat mencerminkan kondisi yang sebenarnya tentang berlangsungnya kegiatan eksplorasi dan juga kebenaran data yang diperoleh. Judul laporan eksplorasi juga harus mencerminkan jenis kegiatan yang dilakukan. Sebuah laporan eksplorasi detil akan mencakup kegiatan hingga pengeboran detil sehingga diperoleh jumlah sumberdaya terukur. Dalam prakteknya tidak jarang dijumpai sebuah laporan eksplorasi detil, namun di dalamnya baru mencakup survei geokimia dan geofisika dan tidak terdapat kegiatan pengeboran. Dalam kasus tersebut kegiatan pengawasan eksplorasi harus kritis dan mempunyai pandangan obyektif dalam menilai tahapan kegiatan eksplorasi yang telah dicapai oleh sebuah perusahaan berdasarkan data-data yang tercakup dalam laporan eksplorasi.

 

2.        Lingkup Pengawasan

Menurut SNI 13-6675-2002, pengawasan eksplorasi merupakan suatu usaha pengecekan, pengujian, dan pembinaan kegiatan eksplorasi bahan galian untuk memantau perkembangannya, termasuk ketepatan penggunaan metode eksplorasi dan prosedur pengolahan data, agar eksplorasi berjalan dengan baik dan benar.Terkait dengan tahapan dan metode eksplorasi, dalam melakukan pengawasan perlu diperhatikan beberapa poin berikut:

1)    Jenis bahan galian dan wilayah yang menjadi target kegiatan eksplorasi oleh perusahaan haruslah sesuai dengan proposal maupun ijin usaha yang dikeluarkan oleh pemerintah.

2)   Kebenaran kegiatan eksplorasi, apakah secara fisik sudah dilakukan kegiatan eksplorasi di lapangan atau tidak.

3)   Kegiatan eksplorasi yang dilakukanperlu diperiksa sudah sampai tahapan apa. Apakah kegiatan tersebut sudah sesuai sebagai lanjutan kegiatan eksplorasi sebelumnya pada daerah yang sama, atau masih pada tahap awal di daerah baru atau pengembangan wilayah. Tahapan kegiatan eksplorasi yang telah dilakukan ini cukup penting untuk diidentifikasi kaitannya dengan tingkat keyakinan dari hasil eksplorasi atau potensi keberadaan bahan galian yang dilaporkan.Semakin detil kegiatan eksplorasi maka tingkat keyakinan estimasi sumberdaya bahan galian akan semakin tinggi.

4)   Metode-metode eksplorasi yang diterapkan perlu diperiksa kesesuaiannya dengan tahapan eksplorasi yang dilakukan oleh perusahaan. Dalam hal ini tentu tidak relevan jika sebuah laporan kegiatan eksplorasi detil namun hanya menggunakan metode-metode eksplorasi tidak langsung.

 

B.        Ringkasan

Eksplorasi bahan galian merupakan kegiatan yang dilakukan secara bertahap. Pentahapan eksplorasi dimaksudkan untuk menemukan dan memodelkan keberadaan bahan galian secara sistematis dengan resiko sekecil mungkin dan tingkat keyakinan yang baik. Tahapan eksplorasi dapat diklasifikasikan menjadi survei tinjau, prospeksi, eksplorasi umum, dan eksplorasi detil. Dalam kegiatan eksplorasi umumnya akan diterapkan metode eksplorasi tidak langsung pada tahapan awal dan metode eksplorasi langsung pada tahapan akhir. Hasil akhir dari sebuah eksplorasi detil adalah diperolehnya jumlah sumberdaya terukur.

Pengawasan eksplorasi dalam kaitannya dengan catatan teknik (2) ini adalah untuk melakukan verifikasi konsistensi tahapan eksplorasi yang telah dicapai dengan metode yang diterapkan serta hasil kegiatan eksplorasi yang telah diperoleh.

 

Dikompilasi oleh: Ir.Rachmat Saleh, M.T (Widyaiswara LB – PPSDM Geominerba)

Minggu, 10 September 2017 17:59

PENGERTIAN PENGAWASAN EKSPLORASI

 Industri Pertambangan merupakan salah satu industri yang mempunyai resiko yang tinggi (kerugian). Dalam usaha pemanfaatan sumberdaya mineral/bahan galian untuk kesejahteraan masyarakat dan pengembangan suatu daerah, diperlukan suatu usaha pertambangan. Agar usaha pertambangan tersebut dapat berjalan dan memperoleh keuntungan, maka potensi sumberdaya mineral/bahan galian yang ada harus diketahui dengan pasti, begitu juga terhadap resiko yang ada, yang dapat dirinci sebagai resiko geologi, resiko ekonomi-teknologi, dan resiko lingkungan, harus dihilangkan atau paling tidak diperkecil. Dalam usaha untuk mengetahui potensi sumberdaya mineral/bahan galian yang ada serta mengidentifikasi kendala alami maupun kendala lingkungan yang mungkin ada, maka perlu dilakukan eksplorasi terlebih dulu. Jadi kegiatan eksplorasi merupakan suatu kegiatan penting yang harus dilakukan sebelum suatu usaha pertambangan dilaksanakan. Hasil dari kegiatan eksplorasi tersebut harus dapat memberikan informasi yang lengkap dan akurat mengenai sumberdaya mineral/bahan galian maupun kondisi-kondisi geologi yang ada, agar studi kelayakan untuk pembukaan usaha pertambangan yang dimaksud dapat dilakukan dengan teliti dan benar (akurat). 

 Kegiatan pengawasan eksplorasi mineral/bahan galian terutama bertujuan untuk memperkecil atau mengurangi resiko geologi. Untuk itu kegiatan eksplorasi harus dapat menjawab pertanyaan mengenai:

 1.             Apa (mineral/bahan galian) yang dicari?

 2.            Dimana (mineral/bahan galian) tersebut terdapat? Baik secara geografis maupun letak/posisinya terhadap permukaan bumi (di atas permukaan, di bawah permukaan, dangkal/dalam, di bawah air?).

 3.            Berapa (sumberdaya/cadangannya), bagaimana kadar, penyebaran, dan kondisinya?

 4.            Bagaimana kondisi lingkungannya (karakteristik geoteknik dan hidrogeologi)?

 

Dalam pelaksanaannya, kegiatan eksplorasi memanfaatkan sifat-sifat fisika dan kimia batuan, tanah, unsur dan mineral/bahan galian yang ada, seperti sifat : kemagnetan, kerapatan (density), kelistrikan, keradioaktifan, distribusi dan mobilitas unsur, serta memanfaatkan teknologi yang tersedia seperti : metode magnetik, seismik dan gaya berat, elektrik (resistivity, self potential, induce polarisation, magneto-telluric, mess a la mase), radioaktif, dan metode geokimia (geobotani dan hidrokimia).

Metode-metode tersebut (metode tak langsung) terutama diterapkan pada ekplorasi tahap awal, dimana daerah cakupannya sangat luas dan waktu maupun biaya yang tersedia cukup terbatas. Kadang-kadang juga dilakukan survei langsung untuk sampling awal (grab sampling, chip sampling, stream sediment sampling, dll.).

 Sedangkan pada tahap lanjutan atau detail, diterapkan metode langsung, yaitu dengan cara survei langsung mulai dari pemetaan, pembuatan parit uji dan sumur uji, dan pemboran, yang  dilengkapi dengan pengambilan conto secara sistematik pada badan bijih/cebakan bahan galian yang bersangkutan. Conto-conto tersebut lalu dianalisis secara kimia di laboratorium untuk mengetahui kadar atau kualitasnya, yang selanjutnya data tersebut digunakan dalam perhitungan potensi atau cadangan.

 Hasil dari setiap tahapan eksplorasi dipakai untuk mengambil keputusan apakah pekerjaan eksplorasi tersebut diteruskan ke tahap yang lebih lanjut (daerah prospek ditemukan) atau tidak dilanjutkan (tidak ada indikasi daerah prospek). Dengan demikian resiko kerugian yang besar dalam melakukan eksplorasi dapat dihindari, hanya kalau hasilnya menjanjikan, dalam hal ini terdapat suatu harapan yang besar akan ditemukannya cadangan yang dapat ditambang (mineable-bankable-economic), maka kegiatan eksplorasi dilanjutkan ke tahap yang lebih detail.

 Dalam mempelajari, merencanakan, dan melaksanakan eksplorasi banyak bidang ilmu dan teknologi yang terlibat yang harus dimengerti dan dikuasai oleh seorang insinyur eksplorasi, antara lain: geologi (tektonik-petrologi-struktur-stratigrafi), analisis mineralogi secara mikroskopi maupun dengan bantuan alat-alat elektronik (XRD-LGC-GC-AAS-EMS), statistik, pemetaan, pemboran, sampling, perhitungan cadangan, geostatistik, pemodelan dengan bantuan software, manajemen, sistem informasi geografis, sampai pada analisis keekonomiannya.  Selain menguasai konsep eksplorasi, seorang insinyur eksplorasi juga harus mampu menerapkan teknologi eksplorasi yang tersedia secara langsung di lapangan, misalnya melakukan pengukuran geofisika dan interprestasinya, survei geokimia dan interprestasinya, survei pengukuran geodetik, pemboran, sampling, dan penanganan conto, serta tentu saja kemampuan dalam mengintegrasikan dan menginterprestasikan data hasil kegiatan eksplorasi, sehingga hasilnya dapat digunakan untuk melakukan studi kelayakan tambang.

 

Dikompilasi oleh: Ir.Rachmat Saleh,M.T (Widyaiswara LB – PPSDM Geominerba)

Jumat, 22 September 2017 11:42

Wiratmadja: Kenapa Harus Branding?

Bandung - Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Energi dan Sumber Daya Mineral (BPSDM ESDM), IGN Wiratmadja Puja menyambangi salah satu unit sektornya, Jumat (22/9), di Bandung. Adalah Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Geologi, Mineral dan Batubara (PPSDM Geominerba), untuk bersilaturahmi sekaligus memberi arahan kepada seluruh pegawai PPSDM Geominerba.

Wiratmadja disambut Kepala PPSDM Geominerba, Edi Prasodjo, yang didampingi Sekretaris BPSDM ESDM, Zainal Arifin. Dalam kesemptan tersebut, branding BPSDM ESDM menjadi salah satu bahan diskusi.

Kenapa harus branding? Agar dapat dikenal. Kepemimpinan harus kuat, on time, melayani, bersih, mempunyai kualitas, harus professional, dan Harmonis. PPSDM Geominerba pun diberi beban baru saat berubah menjadi BLU.

Instansi ini harus meningkatkan level tanggung jawab, peran energi harus besar untuk membangun. Harus tahu dengan jelas segala kebijakan energi, organisasi sebagai BLU, efisien, dan WI yang baik sebagai modal paling Utama.

Wiratmadja menegaskan banyak hal yang harus dilakukan. Di antaranya, mengenali apa tipe pegawai yang ada. Destruktif adalah tipe mengeluh, negative thinking, apatis. Ada yang merasa harus menang sendiri, atau paling terkenal. Seharusnya kan bekerja sama.

Ia juga menekankan apa yang seharusnya dilakukan sebagai pemimpin. Tega dan tegas. “Pesan saya, enjoy everyday. Holiday everyday,”katanya menutup sambutan. (IR)

Bandung – Pengembangan Sumber Daya Manusia Geologi, Mineral dan Batubara (PPSDM Geominerba),  kembali melakukan penandatanganan Implementation Plan Fiscal Year 2017. Kelanjutan dari penandatanganan MoU Antara Jepang yang dalam hal ini yaitu JOGMEC, yang dalam pelaksanaannya dengan Mitsui Matsushima Resources (MMR) dan pihak Indonesia yaitu Pusat di Gedung PPSDM Geominerba, Senin (25/9), di Gedung Diklat PPSDM Geominerba.

Implementation plan yang akan ditandatangani merupakan kesepakatan dari isi MoU berupa pelaksanaan training di Indonesia melalui  Training Project on Coal (TPOC) Mining Technology yang dilaksanakan di dua lokus, yaitu PT. Gerbang Daya Mandiri (GDM) dan PT. Allied Indo Coal Jaya (AICJ).

Penandatanganan yang dilakukan oleh pihak Indonesia kali ini yaitu Raden Yudi Pratama selaku Kepala Bidang Program dan Evaluasi, Bambang Priyatna Wijaya, Kepala Balai Diklat Tambang Bawah Tanah, Himawan Prasodjo, Direktur PT. GDM, dan Fedrya Nanda, Perwakilan dari PT. AICJ, serta pihak Jepang yaitu Yoshihisa Shimoda selaku General Manager MMR.

Sasaran dengan tercapainya kesepakatan pelaksanaan TPOC ini, Antara lain: pelaksanaan training di Indonesia yang akan dilaksanakan di 2 (dua) lokus yaitu PT. GDM dan PT. AICJ, tim Dissemination of Coal Processing, Environment and Safety Technology akan memberikan Pelatihan Teknologi Keselamatan Tambang Batubara Bawah Tanah di 12 Perguruan Tinggi di Indonesia. Ditambah lagi dengan program pelatihan Mine Inspector Management Course yang saat ini sedang berlangsung di Kushiro Coal Mine, Jepang, yang masih akan berlanjut dengan Mine and Safety Management Course pada tanggal 20 November – 29 Desember 2017. (IR)

Selasa, 19 September 2017 15:36

Jadwal Diklat 2018

Jadwal diklat yang akan diselenggarakan tahun 2018 bisa didownload dilink di bawah ini:

Bandung – Inspektur Tambang adalah merupakan jabatan karir dan jabatan fungsional keahlian, sehingga diharapkan dengan tidak dirangkapnya jabatan Inspektur Tambang dengan jabatan struktural seperti dimasa lalu, maka pengambilan keputusan akan lebih fair, independent, tetap berpedoman pada peraturan yang berlaku.

Diklat inspektur tambang pertama yang merupakan persyaratan untuk diangkat menjadi pejabat fungsional inspektur tambang. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia ESDM (BPSDM ESDM) melalui Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Geologi, Mineral dan Batubara (PPSDM Geominerba), telah merancang Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) keinspekturan tambang dalam tiga tahap/jenjang yaitu inspektur tambang pertama, muda, dan madya.

PPSDM Geominerba menyelenggarakan diklat Inspektur tambang angkatan III dan IV, yang dibuka oleh Kepala PPSDM Geominerba, Edi Prasodjo, yang didampingi oleh Kepala Bidang Penyelenggaraan dan Sarana Prasarana, Syaiful Hidayat dan Kepala Subdit Standarisasi dan Usaha Jasa Mineral dan Batubara, Supriyanto, di Gedung Diklat PPSDM Geominerba, Senin pagi (11/9).

Diklat yang berlangsung selama 68 hari (11 September – 17 November 2017) ini, diikuti oleh 50 orang peserta yang berasal dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara.

Setelah mengikuti diklat ini diharapkan para peserta dapat melaksanakan pembinaan dan pengawasan pengusahaan pertambangan mineral dan batubara dengan mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku. (IR)

Senin, 11 September 2017 11:19

Peran Penting Pengamat Gunung Api

Bandung – Indonesia memiliki 127 gunung api aktif, yang ditandai dengan pernah meletus sejak 1600 hingga kini, dan merupakan 13% dari jumlah gunung api di dunia. Sebanyak 65 gunung api aktif dipantau secara menerus melalui 75 pos pengamatan gunung api oleh para pengamat gunung api.

Gunung merapi di Yogyakarta merupakan contoh gunung api yang meletus pada November tahun 2010 lalu, dan mengakibatkan 275 nyawa hilang dan setengah juta lebih mengungsi. Melihat hal ini, menjadi sangat penting peran pengamat gunung api.

Pengamat Gunung Api adalah pelaksana teknis yang mempunyai tugas dan tanggung jawab melakukan pengamatan kegiatan gunung api secara menerus di pos pengamatan gunung api dan memberikan pelayanan jasa terbatas di wilayah masing-masing.

Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Geologi Mineral dan Batubara (PPSDM Geominerba) menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Jabatan Fungsional Pengamat Gunung Api Pelaksana Pemula untuk angkatan I dan II. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala PPSDM Geominerba, Edi Prasodjo dan didampingi oleh Kepala Bidang Penyelenggaraan dan Sarana Prasarana, Syaiful Hidayat, serta Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kasbani, pagi tadi (11/9), di Gedung Diklat PPSDM Geominerba.

Diharapkan dengan mengikuti diklat ini peserta mampu mengoperasikan alat-alat pengamatan gunung api dan mengumpulkan data gejala kegiatan vulkanik sebagai persyaratan untuk dapat diangkat menjadi pejabat fungsional pengamat gunung api pada jenjang pengamat gunung api pelaksana pemula.

Sebanyak 35 peserta berasal dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, akan mengikuti diklat selama 37 hari (11 September – 17 Oktober 2017). (IR)

Selasa, 11 Juli 2017 15:45

Menuju BLU Yang Profesional

Bandung – Sesuai arahan dari kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia ESDM (BPSDM ESDM), I Gusti Nyoman Wiramaja Puja mengenai rencana strategis Badan Layanan Umum (BLU) BPSDM kepada Menteri ESDM pada tanggal 31 Maret 2017.

Menindaklanjuti hal tersebut, Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Geologi, Mineral dan Batubara (PPSDM Geominerba) sebagai salah satu satuan kerja BPSDM ESDM untuk mempersiapkan usulan penetapan BLU.

Untuk dapat menginisiasi pemahaman dan pengetahuan terkait BLU, Kepala PPSDM Geominerba, Edi Prasodjo menyelenggarakan seminar BLU dengan Tema “Menuju BLU yang Profesional di PPSDM Geominerba” dan membuka acara secara langsung, di Gedung PPSDM Geominerba, lantai 4 ruang 2, Selasa (18/7).

Sebanyak kurang lebih 100 orang peserta dari lingkungan Kementerian ESDM hadir dalam acara seminar ini. Narasumber yang hadir memberikan materi, dari Kementerian Keuangan, Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI), dan Lemigas, yang sudah terlebih dahulu mengimplementasikan BLU.

Edi Prasodjo pun turut memberikan pemaparan mengenai rencana dalam menghadapi BLU, dan tak lupa meminta dukungan seluruh pegawai khususnya di lingkungan PPSDM Geominerba untuk terus memberikan kontribusi terbaik guna menjalankan amanat pimpinan untuk bertransformasi menjadi Badan Layanan umum. (IR)

Bandung – Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia ESDM (BPSDM ESDM), Prof. Dr. Ir. I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja, M. Sc. Yang didampingi Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Geologi, Mineral dan Batubara (PPSDM Geominerba), Edi Prasodjo dan Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Aparatur (PPSDM Aparatur), M. P. Dwinugraha, melakukan kunjungan kerja ke satuan kerja BPSDM ESDM, yaitu PPSDM Geominerba dan PPSDM Aparatur, Jumat (11/8).

Dalam kunjungan kerjanya, Wiratmaja, itulah sapaan akrabnya, “Cukup panggil saya prof atau pak wirat atau wirat saja” sahutnya saat mengawali perkenalan kepada seluruh pejabat eselon III dan IV serta widyaiswara di Ruang rapat lantai 6, Gedung PPSDM Geominerba.

Tujuan kunjungan kerjanya adalah untuk memperkenalkan diri sebagai Kepala Badan baru setelah pelantikannya tanggal 2 Agustus lalu. Selain itu juga Wirat ingin mengetahui rencana apa saja yang telah dipersiapkan oleh PPSDM Geominerba dalam menyambut Badan Layanan Umum (BLU). (IR)