BerandaKerjasamaTambangPengawasan Eksplorasi Mineral/Bahan Galian

Pengawasan Eksplorasi Mineral/Bahan Galian

09 Oktober 2017

A.        Konsep dan Tahapan Eksplorasi

Eksplorasi merupakan salah satu proses dalam rangkaian kegiatan industri pertambangan. Industri pertambangan dicirikan oleh beberapa faktor yaitu:

1.     Nilai investasi yang cukup besar

2.    Memiliki resiko yang cukup besar

3.    Membutuhkan sumberdaya yang besar

4.    Merubah bentuk lahan

Karena industri pertambangan memerlukan dana operasional yang sangat besar, maka akan menimbulkan resiko terhadap investasi di dunia pertambangan. Untuk mengurangi resiko tersebut maka pentahapan industri pertambangan harus dilakukan dengan strategi dan optimasi. Termasuk dalam hal ini adalah strategi dalam kegiatan eksplorasi, karena keberhasilan sebuah investasi pertambangan sangat ditentukan dari berhasilnya kegiatan eksplorasi.

Banyak definisi yang dapat diuraikan dalam istilah eksplorasi, namun dalam konteks ini secara umum, eksplorasi dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan untuk mencari, menemukan, dan mendapatkan suatu bahan tambang (bahan galian) yang kemudian secara ekonomi dapat dikembangkan untuk diusahakan. Secara konsep, dalam lingkup industri pertambangan, eksplorasi dinyatakan sebagai suatu usaha (kegiatan) yang karena faktor resiko geologi, dilakukan secara bertahap dan sistematik untuk mendapatkan suatu areal yang representatif untuk dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai areal penambangan (dieksploitasi). Dengan semakin detilnya kegiatan eksplorasi maka resiko geologi akan semakin menurun.

 

Secara lebih detil berikut merupakan beberapa alasan diperlukannya kegiatan eksplorasi yang sistematis:

1.          Dimensi dan bentuk endapan bahan galian tidak tentu karena perbedaan sifat-sifat fisik dan kimia endapan, baik secara vertikal maupun horisontal. Dalam hal ini metode eksplorasi yang diterapkan sangat tergantung pada tingkat kompleksitas endapannya. Semakin kompleks tipe endapan maka teknologi dan kerapatan data akan semakin tinggi.

2.     Endapan bahan galian bersifat tidak terbarukan sehingga akan habis jika ditambang. Kemajuan teknologi akan memberikan peluang untuk mendapatkan endapan baru. Dalam hal ini juga harus diperlukan eksplorasi yang berwawasan konservasi.

3.         Keterdapatan suatu endapan pada kerak bumi tidak merata, sehingga diperlukan strategi eksplorasi untuk mendapatkan adanya konsentrasi mineral.

4.          Permasalahan suppy – demand mineral, dimana permintaan jangka panjang komoditas diharapkan terus naik dengan laju cepat, sehingga selalu ada tantangan pada penyediaan yang dapat mengimbangi permintaan tersebut.

 Dalam kerangka melaksanakan eksplorasi yang sistematis dan strategis,secara umum tahapan eksplorasi dapat dibagi menjadi empat, yaitu survei tinjau (reconnaissance), prospeksi (prospecting), eksplorasi umum (general exploration), dan eksplorasi rinci (detailed exploration).

Definisi dari tahapan-tahapan eksplorasi tersebut menurut SNI 4726:2011 adalah sebagai berikut:

1.             Survei tinjau adalah tahap eksplorasi untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang berpotensi bagi keterdapatan mineral pada skala regional terutama berdasarkan hasil studi geologi regional, diantaranya pemetaan geologi regional, pemotretan udara, dan metode tidak langsung lainnya, dan inpeksi lapangan pendahuluan yang penarikan kesimpulannya berdasarkan ekstrapolasi. Tujuannyaadalah untuk mengidentifikasi daerah-daerha-anomali atau mineralisasi yang prosfektif untuk diselidiki lebih lanjut, Perkiraan kuantitas sebaiknya hanya dilakukan apabila datanya cukup tersedia atau ada kemiripan dengan cebakan lain yang mempunyai kondisi geologi yang sama.

2.            Prospeksi adalah tahap eksplorasi dengan jalan mempersempit daerah yang mengandung cebakan mineral yang potensial. Metode yang digunakan adalah pemetaan geologi untuk mengidentifikasi singkapan, dan metode yang tidak langsung seperti studi geokimia dan geofisika dengan skala yang diperlukan. Paritan yang terbatas, pengeboran dan pemercontohan mungkin juga dilaksanakan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi suatu cebakan mineral yang akan  menjdi target eksplorasi selanjutnya. Estimasi kuantitas dihitung berdasarkan interpretasi data geologi, geokimia, dan geofisika.

3.            Eksplorasi umum adalah tahap eksplorasi yang merupakan delineasi awal dari suatu cebakan yang teridentifikasi. Selanjutnya metode yang digunakan termasuk pemetaan geologi, pemercontohan dengan jarak yang lebar, membuat puritan dan pengeboran untuk evaluasi pendahuluan kuantitas dan kualitas dari suatu cebakan mineral berdasarkan metode penyelidikan tak langsung. Tujuannya dalaj untuk menentukan gambaran geologi suatu cebakan mineral berdasarkan indikasi sebaran, perkiraan awal mengenai ukuran, bentuk, sebaran, kuantitas dan kualitasnya.

4.            Eksplorasi rinci adalah tahap eksplorasi untuk mendeliniasi secara rinci dalam 3-dimensi terhadap cebakan mineral yang telah diketahui dari pemercontohan sedemikian rapat sehingga ukuran, bentuk, sebaran, kuantitas dan kualitas dan cirri-ciri yang lain dari cebakan mineral tersebut dapat ditentukan dengan tingkat ketelitian yang tinggi.

 

Gambar 3. menunjukkan skematis tahapan eksplorasi yang umumnya diterapkan dalam eksplorasi bahan galian. Hal yang perlu dicatat di sini adalah bahwa kegiatan eksplorasi akan menghasilkan jumlah potensi dalam klasifikasi sumberdaya. Jumlah cadangan belum dapat diestimasi dalam kegiatan eksplorasi. Estimasi cadangan baru dilakukan pada tahapan studi kelayakan dimana aspek-aspek teknis dan non teknis dipertimbangkan untuk mengoptimasi jumlah potensi bahan galian yang dapat ditambang (cadangan).

Dilihat dari cara interpretasinya, metode eksplorasi dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu metode eksplorasi langsung dan tidak langsung. Interpretasi metode eksplorasi langsung dilakukan dengan langsung mengamati obyek endapan yang dieksplorasi, sedangkan interpretasi metode tidak langsung dilakukan dengan mengamati anomali-anomali dari sifat fisika dan kimia endapan yang terukur oleh alat.

Secara umum metode-metode eksplorasi tidak langsung diterapkan pada tahapan eksplorasi awal karena dapat mencakup daerah yang luas sehingga harga eksplorasi per satuan luas menjadi lebih murah. Metode eksplorasi tidak langsung sangat aplikatif untuk menciutkan cakupan wilayah eksplorasi yaitu dengan meninggalkan wilayah-wilayah yang tidak terdeteksi adanya anomali. Metode-metode eksplorasi langsung umumnya diterapkan pada tahapan eksplorasi lanjutan atau detil di wilayah yang sebelumnya diindikasikan adanya anomali-anomali pada pengukuran eksplorasi tidak langsung.

 Metode eksplorasi tidak langsung mencakup penginderaan jauh, eksplorasi geokimia, dan eksplorasi geokimia. Metode eksplorasi langsung dapat dilakukan dengan pemetaan, parit uji, sumur uji, dan pengeboran. Tabel 2.1. menunjukkan klasifikasi metode eksplorasi tidak langsung dan eksplorasi langsung serta sifat-sifatnya.


 

Eksplorasi Tidak Langsung

Eksplorasi Langsung

Kegiatan umum

Tidak berhubungan (kontak) langsung dengan objek yang dieksplorasi

Langsung berhubungan (kontak) dengan objek yang dieksplorasi

Prinsip pekerjaan

Memanfaatkan sifat-sifat fisik/kimia dari endapan

Melakukan pengamatan/penyelidikan secara langsung terhadap terhadap endapan secara fisik

Identifikasi

Melalui anomali-anomali yang diperoleh dari hasil pengamatan/pengukuran

Melakukan analisis megaskopis dan mikroskopis terhadap objek penyelidikan

Metoda

Penginderaan jarak jauh, survei geokimia, survei geofisika

Pemetaan, uji sumur, uji parit, pemboran

Tahapan eksplorasi

Digunakan pada tahapan Reconnaissance (Eksplorasi Pendahuluan) s/d Prospeksi

Digunakan pada tahapan Prospeksi ®Finding (Eksplorasi Detail)

Teknologi

Membutuhkan peralatan (teknologi) relatif tinggi

Membutuhkan teknologi yang lebih sederhana s/d manual

Biaya

Biaya per satuan luas murah

Biaya per satuan luas mahal

Waktu

Relatif cepat

Memerlukan waktu lebih lama

 Tabel 2.1. Perbandingan metode eksplorasi tidak langsung dan eksplorasi langsung.

 

A.        Pengawasan Tahapan dan Metode Eksplorasi

 

1.         Dokumen dan isu Penting

 Dalam sebuah kegiatan eksplorasi, perusahaan akan membuat sebuah laporan yang menyeluruh mencakup semua jenis kegiatan, metode dan peralatan yang dipergunakan, serta hasil yang diperoleh. Sebuah dokumen laporan eksplorasi harus dapat mencerminkan kondisi yang sebenarnya tentang berlangsungnya kegiatan eksplorasi dan juga kebenaran data yang diperoleh. Judul laporan eksplorasi juga harus mencerminkan jenis kegiatan yang dilakukan. Sebuah laporan eksplorasi detil akan mencakup kegiatan hingga pengeboran detil sehingga diperoleh jumlah sumberdaya terukur. Dalam prakteknya tidak jarang dijumpai sebuah laporan eksplorasi detil, namun di dalamnya baru mencakup survei geokimia dan geofisika dan tidak terdapat kegiatan pengeboran. Dalam kasus tersebut kegiatan pengawasan eksplorasi harus kritis dan mempunyai pandangan obyektif dalam menilai tahapan kegiatan eksplorasi yang telah dicapai oleh sebuah perusahaan berdasarkan data-data yang tercakup dalam laporan eksplorasi.

 

2.        Lingkup Pengawasan

Menurut SNI 13-6675-2002, pengawasan eksplorasi merupakan suatu usaha pengecekan, pengujian, dan pembinaan kegiatan eksplorasi bahan galian untuk memantau perkembangannya, termasuk ketepatan penggunaan metode eksplorasi dan prosedur pengolahan data, agar eksplorasi berjalan dengan baik dan benar.Terkait dengan tahapan dan metode eksplorasi, dalam melakukan pengawasan perlu diperhatikan beberapa poin berikut:

1)    Jenis bahan galian dan wilayah yang menjadi target kegiatan eksplorasi oleh perusahaan haruslah sesuai dengan proposal maupun ijin usaha yang dikeluarkan oleh pemerintah.

2)   Kebenaran kegiatan eksplorasi, apakah secara fisik sudah dilakukan kegiatan eksplorasi di lapangan atau tidak.

3)   Kegiatan eksplorasi yang dilakukanperlu diperiksa sudah sampai tahapan apa. Apakah kegiatan tersebut sudah sesuai sebagai lanjutan kegiatan eksplorasi sebelumnya pada daerah yang sama, atau masih pada tahap awal di daerah baru atau pengembangan wilayah. Tahapan kegiatan eksplorasi yang telah dilakukan ini cukup penting untuk diidentifikasi kaitannya dengan tingkat keyakinan dari hasil eksplorasi atau potensi keberadaan bahan galian yang dilaporkan.Semakin detil kegiatan eksplorasi maka tingkat keyakinan estimasi sumberdaya bahan galian akan semakin tinggi.

4)   Metode-metode eksplorasi yang diterapkan perlu diperiksa kesesuaiannya dengan tahapan eksplorasi yang dilakukan oleh perusahaan. Dalam hal ini tentu tidak relevan jika sebuah laporan kegiatan eksplorasi detil namun hanya menggunakan metode-metode eksplorasi tidak langsung.

 

B.        Ringkasan

Eksplorasi bahan galian merupakan kegiatan yang dilakukan secara bertahap. Pentahapan eksplorasi dimaksudkan untuk menemukan dan memodelkan keberadaan bahan galian secara sistematis dengan resiko sekecil mungkin dan tingkat keyakinan yang baik. Tahapan eksplorasi dapat diklasifikasikan menjadi survei tinjau, prospeksi, eksplorasi umum, dan eksplorasi detil. Dalam kegiatan eksplorasi umumnya akan diterapkan metode eksplorasi tidak langsung pada tahapan awal dan metode eksplorasi langsung pada tahapan akhir. Hasil akhir dari sebuah eksplorasi detil adalah diperolehnya jumlah sumberdaya terukur.

Pengawasan eksplorasi dalam kaitannya dengan catatan teknik (2) ini adalah untuk melakukan verifikasi konsistensi tahapan eksplorasi yang telah dicapai dengan metode yang diterapkan serta hasil kegiatan eksplorasi yang telah diperoleh.

 

Dikompilasi oleh: Ir.Rachmat Saleh, M.T (Widyaiswara LB – PPSDM Geominerba)

Login to post comments

Lokasi Pusdiklat Minerba

Kontak Kami

Jl. Jendral Sudirman No 623
Bandung - Indonesia

Telp : 022-6076756
Fax : 022-6035506