Beranda

Budaya Keselamatan

04 Februari 2016

Kondisi  keselamatan dan kesehatan kerja (K3) perusahaan di Indonesia secara umum diperkirakan termasuk rendah. Pada tahun 2005 Indonesia menempati posisi yang buruk jauh di bawah Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand. Kondisi  tersebut mencerminkan kesiapan daya saing perusahaan Indonesia di dunia internasional masih sangat rendah. Indonesia akan sulit menghadapi pasar global karena mengalami ketidakefisienan pemanfaatan tenaga kerja (produktivitas kerja yang rendah). Padahal kemajuan perusahaan sangat ditentukan peranan mutu tenaga kerjanya. Karena itu disamping perhatian perusahaan, pemerintah juga perlu memfasilitasi dengan peraturan atau aturan perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Nuansanya harus bersifat manusiawi atau bermartabat. Keselamatan dan kesehatan kerja telah menjadi perhatian di kalangan pemerintah dan bisnis sejak lama.  Faktor keselamatan dan kesehatan kerja menjadi penting karena sangat terkait dengan kinerja karyawan dan pada gilirannya pada kinerja perusahaan. Semakin tersedianya fasilitas keselamatan dan kesehatan kerja semakin sedikit kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.

Adanya budaya keselamatan (Safety Culture) akan sangat mendukung tercapainya peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Istilah budaya keselamatan pertama dibuat  dalam laporan awal Badan Energi Atom Internasional menyusul bencana Chernobyl (IAEA, 1986). Apa itu Budaya Keselamatan? Budaya Keselamatan adalah sikap dan sifat dalam organisasi dan individu yang menekankan pentingnya keselamatan. Oleh karena itu, budaya keselamatan mempersyaratkan agar semua kewajiban yang berkaitan dengan keselamatan harus dilaksanakan secara benar, seksama, dan penuh rasa tanggung jawab. Namun budaya di setiap organisasi itu berbeda-beda dan bervariasi sesuai karakteristiknya seperti sebuah keluarga yang memiliki perbedaan dari keluarga lainnya. Pertanyaannya apakah sudah banyak organisasi atau individu yang melibatkan keselamatan dalam budayanya?

Walaupun K3 sudah “dianggap penting” dalam aspek kegiatan operasi namun didalam pelaksanaanya masih saja ditemui hambatan serta kendala-kendala. Salah satu hambatan tersebut tidak lain adalah hambatan sosial budaya, ini artinya budaya keselamatan di Indonesia masih patut dipertanyakan. Budaya keselamatan yang masih kurang di negeri kita ini ditandai dengan kesenjangan sosial budaya dalam bentuk rendahnya disiplin dan kesadaran masyarakat dalam masalah keselamatan kerja, perilaku masyarakat yang belum sepenuhnya mengerti terhadap bahaya-bahaya yang terdapat dalam industri dengan teknologi canggih serta dengan adanya budaya santai dan tidak peduli dari masyarakat atau dengan kata lain belum ada budaya mengutamakan keselamatan di dalam masyarakat atau pekerja. Contoh yang paling mudah jadikan pengendara motor sebagi sampel. Sepeda motor adalah alat transportasi yang paling dan sangat berkembang di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Jalanan di Negara kita hampir tidak pernah sepi dari lalu lalang moda transportasi yang satu ini. Sepeda motor sudah menjadi cerminan garis besar gaya hidup dan budaya masyarakat Negara kita saat ini. Namun bisa anda perhatikan berapa persen dari pengendara motor itu yang benar-benar mematuhi norma-norma keselamatan berkendara, misalnya menggunakan helm yang standard atau tidak, jika sudah apakah tali pengikatnya telah dikencangkan hingga terdengar suara “klik” atau tidak?, berapa persen yang benar-benar mematuhi rambu-rambu lalulintas?, termasuk saat jalanan sepi dan tidak ada polisi laulintas, berapa persen yang benar-benar merawat sepeda motornya dengan baik?, bahkan perlu dipertanyakan berapa persen pengendara sepeda motor yang benar-benar bisa berkendara dalam arti benar-benar tahu cara mengendarai sepeda motor di jalan dan paham semua rambu lalulintas?, dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya. Apakah pengendara sepeda motor tahu tentang keselamatan? Jawabannya sudah pasti iya, namun mengapa masih belum berjalan? Karena keselamatan itu masih sebatas pengetahuan saja (walaupun sebenarnya pengetahuannya juga masih minim) namun belum membudaya, faktor budaya sangat berpengaruh baik itu budaya individu, keluarga maupun organisasi.

Namun bukan berarti Negara yang kita cintai ini tidak mempunyai sama sekali budaya keselamatan, Sebenarnya nilai-nilai kebudayaan Negara kita banyak sekali yang memuat benih, potensi, kerangka, dan landasan untuk memiliki budaya keselamatan. Namun entah mengapa budaya keselamatan itu sulit sekali ditegakkan sepenuhnya di tengah-tengah masyarakat atau pekerja kita. Beberapa nilai-nilai, benih, potensi, kerangka, dan landasan budaya keselamatan yang sudah ada didalam Negara dan masyarakat kita antara lain:

 

Budaya Keselamatan dalam Budaya dan Nilai-nilai Lokal

Beberapa budaya lokal di Negara kita sebenarnya sudah memiliki nilai-nilai keselamatan, seperti budaya Jawa yang memiliki pepatah “alon-alon waton kelakon” yang mempunyai arti pelan-pelan asal selamat/terlaksana. Ini bukan berarti mengajarkan untuk selalu lambat, tapi makna yang mendalam dari pepatah ini adalah mengajarkan kita untuk selalu mengutamakan keselamatan (Safety First), setelah keselamatan terjamin barulah kualitas dan kuantitas dapat tercapai. Pepatah ini juga mengajarkan untuk mengerjakan sesuatu dengan dasar yang jelas, dengan cara yang selamat, efektif dan efisien dan tujuan akan tercapai dengan baik. Prinsip bekerja “alon-alon waton kelakon” tidak mengisyaratkan kita untuk santai dan berleha-leha tapi lebih mengisyaratkan kita untuk tidak terburu-buru, tergesa-gesa dan selalu waspada, silahkan saja orang lain menyalip jika memang ingin duluan, yang penting kita nikmati dulu proses optimalisasi apa yang sedang kita lakukan/kerjakan dan kita tidak perlu terlalu bernafsu mengejar yang sudah mendahului kita, karena perlahan tapi mantap lebih berarti daripada langsung tancap gas tanpa pernah menginjak rem yang akhirnya lupa untuk berhenti pada saat yang tepat dan berakhir celaka. Di Budaya Melayu terdapat pepatah “kalau pandai meniti buih, alamat selamat badan ke seberang” yang artinya orang yang pandai membawa diri, tentulah selamat hidupnya. Walaupun bermakna umum namun mengandung makna keselamatan juga. Untuk mencapai suatu tujuan, misalnya target produksi dengan selamat, maka harus bisa melewati pekerjaan diproses produksi dengan memperhatikan aspek keselamatan. Ada juga pepatah melayu yang mengatakan “mencegah lebih elok daripada mengubati” atau “menolak kerusakan lebih utama daripada menarik kemaslahatan” hal ini sangat sesuai dengan program promosi K3 yang lebih kearah preventif dan promotif daripada kuratif. Atau pepatah yang ini “lebih baik jadi ayam betina supaya selamat” yang bermakna jangan sok berani sebab hanya akan mendatangkan kesusahan atau dengan kata lain hindarilah perilaku beresiko yang menantang bahaya. Selain itu ada juga pepatah Melayu yang mengatakan “jangan tergopoh-gopoh dalam menyelesaikan suatu perkara” yang bermakna mirip “alon-alon waton kelakon”. Di Budaya China ada filosofi “carilah pekerjaan yang kamu tidak bekerja” atau “carilah pekerjaan yang betul-betul kamu senangi, maka seumur hidup kamu tidak akan menyebutnya bekerja” yang dikatakan oleh filsuf terkenal Confisius. Walaupun tidak secara eksplisit menyinggung keselamatan kerja fisik namun secara implicit filosofi ini mngandung pesan yang senada dengan prinsip ergonomic yang merupakan salah satu cabang K3 yakni “fitting the job to the man” yang berarti sesuaikan pekerjaan dengan individu karena setiap individu mempunyai karakteristik yang berbeda-beda baik itu karakteristik non fisik maupun fisik (antropometri), sehingga pekerjaan dapat dilakukan dengan selamat dan sehat tidak hanya fisiknya namun juga mentalnya serta produktif sehingga hasil kerjanya berkualitas tinggi. Dan jika mau menelaah satu persatu memang banyak sekali filosopi yg dapat kita ambil dari khasanah budaya daerah-daerah di negara kita yg memuat budaya keselamatan, salah satu contohnya lainnya dari Tanah Tapanuli "Ganjang abor ndang jadi surohan, jempek abor ndang jadi langkaan" yg berarti walaupun tinggi tanda larangan orang tidak boleh merangkak melewatinya, walaupun rendah tanda larangan orang tidak boleh melangkahinya, jika di ambil makna terdalamnya setiap ada tanda larangan itu dibuat agar kita mematuhinya ada atau tidak ada orang yg mengawasinya, larangan atau norma harus dipatuhi bukan karena bentuk fisik atau orang yg menyampaikannya namun lebih karena pesan atau makna yg terkandung didalamnya. Dan masih banyak lagi yang lainnya yang tidak sempat dimasukkan satu persatu.

 

Budaya Keselamatan Nasional

Dalam hal regulasi, Indonesia sudah mempunyai landasan untuk berbudaya keselamatan terbukti dengan adanya berbagai macam peraturan tentang keselamatan kerja, Namun apakah pelaksanaannya sudah tegas? Guna mendukung terlaksananya budaya K3 atau keselamatan di Indonesia, pemerintah sudah mulai melakukan beberapa langkah seperti mencanangkan Bulan K3 setiap tahunnya dan memberdayakan masyarakat untuk mewujudkan Gerakan Efektif Masyarakat Membudayakan K3 (GEMA DAYA K3) secara nasional, regional dan bahkan internasional. GEMA DAYA K3 merupakan strategi dalam menyukseskan Gerakan Nasional Pembudayaan K3 yang ditujukan pada peningkatan peran aktif dan potensi masyarakat untuk mewujudkan budaya K3 disetiap tempat kerja dan dalam hal ini pemerintah, baik Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/kota sebagai motivator GEMA DAYA K3, maka kegiatan GEMA DAYA K3 adalah gerakan bersama-sama, menyeluruh, dan terpadu yang harus dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab secara berjenjang sesuai dengan tata cara pemerintahan saat ini Lalu bagaimana perbandingan budaya keselamatan Negara kita dengan Negara lain? Jangankan dengan Negara maju seperti Jepang, Negara-negara Uni Eropa bahkan Negara tetangga kita Singapura, dengan Negara-negara sesama Negara berkembang di tingkat Asia Tenggara saja seperti Malaysia dan Thailand, kita tertinggal cukup jauh. Indonesia masih harus berjuang lebih keras, berperan aktif dan bekerja secara kolektif dalam mendukung cita-cita besar bangsa , yaitu Indonesia Berbudaya K3. Salah satu program yang dicanangkan oleh pemerintah untuk mewujudkannya adalah Indonesia Berbudaya K3 Tahun 2015. Memang mayoritas Negara yang sukses berbudaya keselamatan adalah Negara maju namun untuk menjadi Negara yang sukses berbudaya keselamatan tidak harus menjadi Negara maju terlebih dahulu karena sejatinya keselamatan itu syarat utama munculnya kualitas yang nantinya justru akan menjadikan Negara itu maju.

 

Budaya Keselamatan dalam Dunia Profesional/Dunia Kerja

Di dunia professional/dunia kerja/dunia industri mungkin bisa dibilang mempunyai budaya keselamatan yang lebih baik. Terutama perusahaan-perusahaan besar yang bekiblat pada manajemen dari Negara maju seperti Toyota yang menempatkan SAFETY /KESELAMATAN sebagai elemen utama dalam Toyota Production System. Beberapa perusahaan juga sudah menerapkan 1 dari 8 filosofi K3 (International Association of Safety Professional), yakni “safety is a culture, not a program”, artinya K3 bukan hanya sekedar program yang dilaksanakan perusahaan utuk mendapatkan penghargaan atau sertifikat. K3 hendaknya menjadi cerminan budaya dalam organisasi. Beberapa perusahaan juga sudah “menyelipkan” keselamatan dalam visi dan misi perusahaan mereka yang membuktikan mereka serius terhadap penerapan budaya keselamatan. Hal tersebut cukup menggembirakan dan bisa menjadikan acuan dan contoh bagi perusahaan-perusahaan lainnya dan kesatuan masyarakat lainnya, mengingat masih banyak perusahaan yang belum membudayakan keselamatan.

Jangan berpikir bahwa budaya keselamatan hanya ada di industri atau perusahaan-perusahaan besar saja. Mayoritas populasi pekerja justru ada di sektor usaha kecil dan menengah (UKM) yang mempekerjakan lebih dari 85% populasi pekerja di dunia, UKM menjadi sumber utama lapangan pekerjaan di Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia, UKM telah menjadi pendukung bagi pembangunan berkelanjutan dan sarana penting untuk menyerap tenaga kerja. Diperkirakan lebih dari 60% angkatan kerja diserap di sektor UKM. Karena mayoritas angkatan kerja berada di UKM maka budaya keselamatan akan menjadi penentu cerminan budaya keselamatan kerja di Indonesia. UKM masih banyak menghadapi tantangan, salah satunya adalah bagaimana meningkatkan produktifitas seraya meningkatkan K3 dan serta kondisi kerja. Budaya keselamatan UKM masih belum tersentuh sepenuhnya, namun ini menjadi kesempatan Indonesia untuk memperbaiki kinerja K3 di sektor UKM. Budaya keselamatan di perusahaan-perusahaan ternama dapat dijadikan contoh dan diteladani sebagai upaya untuk menerapkan K3 secara efektif dan efisien sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan budaya K3 di sektor UKM agar dapat menekan angka kecelakaan kerja sehingga produktifitas dan daya saing dapat meningkat.

Lalu bagaimana cara untuk membentuk budaya keselamatan itu? Menurut versi International Association of Oil and Gas Producer ada 5 elemen untuk membentuk budaya keselamatan yang kuat, yaitu :

1.    Budaya untuk Mencari Informasi (Informed Culture)

Tetap mendapatkan informasi dapat membantu organisasi untuk mencegah ketidakwaspadaan dalam ketiadaan kecelakaan kerja. Organisasi dengan budaya K3 yang kuat selalu waspada dan percaya bahwa kondisi yang aman dapat bermasalah.Jika orang-orang tidak melihat apapun yang bermasalah, mereka akan berasumsi bahwa tidak akan muncul masalah sehingga mereka tidak diharuskan untuk bertindak apapun. Ini adalah hal yang tidak tepat sehingga perlu usaha-usaha untuk mengikis asumsi tersebut.

Oleh karena itu, dalam ketiadaan kejadian kecelakaan kerja dan dalam usaha untuk mempromosikan perhatian keselamatan kerja yang terjadi, sebuah organisasi harus membuat sebuah sistem informasi yang mengumpulkan, menganalisa dan membagikan informasi tentang manusia, technical, organisasi dan faktor lingkungan yang menunjukkan keseluruhan sistem keselamatan kerja. Sayangnya, hal ini tidak semudah untuk melaporkan kecelakaan kerja.

 Menurut Hopkins, banyak studinya terkait dengan kecelakaan kerja baik mayor ataupun minor, selalu menunjukkan bahwa sebelumnya sudah ada informasi yang telah dilaporkan dan dianalisa, informasi inilah yang menjadi sinyal lemah tentang munculnya kecelakaan kerja suatu saat nanti.

Sebuah organisasi yang berkomitmen untuk mencegah kecelakaan selalu menyadari informasi tersebut dan berusaha untuk mencegahnya serta mengumpulkan informasi lebih banyak. Pekerja dalam budaya tersebut juga didorong untuk melaporkan kondisi tidak aman, bahaya, prosedur yang tidak efektif, proses yang gagal, beberapa alarm, dan lain-lain untuk mencegah potensi kecelakaan.

 

2.    Budaya Melaporkan (Reporting Culture)

Organisasi dalam industri yang beresiko tinggi sedang meningkatkan kepemahaman mereka tentang keselamatan kerja melalui laporan dan investigasi kecelakaan. Keengganan untuk menyelidiki dan berdiskusi tentang kecelakaan dapat mengakibatkan kehilangan peluang untuk mencegah bencana di masa depan dan dapat diterjemahkan sebagai tanda bahwa produksi dihargai lebih daripada keselamatan kerja.

Keengganan untuk melaporkan kecelakaan dapat terjadi ketika proses pelaporan terlalu rumit atau terdapat ketidakpercayaan di antara berbagai macam lapisan dalam organisasi. Ini bisa diatasi dengan memperkenalkan sistem pelaporan di mana identitas dari pelapor hanya diketahui oleh badan yang dipercayai biasanya adalah departemen HSE.

Lebih lanjut, nilai dari pelaporan haruslah terlihat dari aksi perbaikan, penyebaran pelajaran yang dapat diambil dari pelaporan serta umpan balik ke pelapor. Ini membutuhkan sumber daya yang cukup dan kompeten yang siap sedia untuk investigasi kecelakaan secara efektif

Kita tidak mungkin bisa menginvestigasi semua laporan dengan kedalaman analisa yang sama, kita harus bisa untuk memprioritaskan. Parameter berikut harus menjadi kriteria untuk memprioritaskan laporan:

·        Resiko: Menilai keparahan dan frekuensi potensi dari kejadia

·        Peningkatan: Identifikasi potensi tinggi untuk ide peningkatan

·        Tema: Apakah kejadian selalu berulang?

Peningkatan laporan bergantung oleh keterlibatan dari seluruh karyawan untuk menjamin kontribusi dan pelajaran dari proses perbaikan dan peningkatan (improvement). Untuk belajar dengan baik dari sistem pelaporan dan mengembangkan aksi efektif terus berlanjut maka 2 aspek ini harus disadari, aspek ini juga menjadi indikator dari kedewasaan dari budaya K3:

·        Menjamin independensi maksimum dari kecelakaan meskipun hasil investigasi menunjukkan bahwa terdapat ketiadaan kendali dari manajemen

·        Secara aktif melibatkan manajemen lini untuk mengubah rekomendasi menjadi aksi sehingga mereka menjadi terlibat di dalam rekomendasi itu. Ini juga membuat mereka mennyadari peran mereka untuk meningkatkan keselamatan kerja di masa depan

 

3.    Budaya Belajar (Learning Culture)

Budaya belajar adalah sebuah perpanjangan alami dari budaya pelaporan karena sebuah laporan tidak akan bisa efektif kecuali apabila organisasi belajar dari pelaporan yang karyawan buat.

Sebuah organisasi dengan budaya belajar yang kuat akan mengumpulkan informasi dari berbagai macam sumber, mengambil pelajaran yang berguna, membagi pelajaran yang di dapat dan menindaklanjuti proses pengembangan keselamatan kerja. Organisasi pembelajar akan mencari pandangan yang berlawanan untuk mencari kesempatan belajar dengan lebih efektif. Mereka terbuka akan berita yang buruk sehingga informasi tidak “dikecilkan” begitu sampai ke manager. Laporan yang ada merupakan laporan yang valid karena sistem pelaporan berdasarkan kejujuran dan kepercayaan. Karena organisasi secara jelas merespon laporan, karyawan merasa terdorong untuk terus melapor sehingga menghasilkan budaya pelaporan yang efektif.

Organisasi pembelajar sangat sensitive dengan pelajaran dari berbagai macam sumber. Mereka bisa mengambil pembelajaran dari sistem pelaporan internal, analisa root cause yang sistematik hingga belajar dari kecelakaan dari organisasi eksternal

Organisasi pembelajaran memiliki karyawan profesional yang memilki pekerja untuk menganalisa informasi dan mengambil keuntungan dari hasilnya. Karyawan-karyawan ini memiliki ciri:

·        Mengidentifikasi problem dan pelajaran

·        Mengembangkan rencana dengan manager lokasi untuk mengatasi masalah

·        Mengimplementasikan pelajaran yang dapat diambil ke seluruh organisasi

Organisasi pembelajar juga menghindari informasi penting yang hilang bersamaan dengan karyawan mereka yang mundur dari pekerjaan. Hal ini dikarenakan mereka sudah menganalisa, menyimpan, menyebarkan dan membangun informasi-informasi penting ke dalam penerapan yang terus berkelanjutan.

 

4.    Budaya Fleksibel (Flexibility Culture)

Budaya fleksibel dalam sebuah organisasi akan memungkinkan organisasi untuk mempertahankan koordinasi dalam level yang efektif dan perhatian yang tepat mengingat terdapat perbedaan dalam proses pengambilan keputusan karena perbedaan tingkat urgensi dan kehandalan dalam orang-orang yang terlibat.

Budaya fleksibel ditandai dengan kemampuan untuk mengganti struktur organisasional dari hierarki konvensional ke struktur operasional yang lebih setara (flat) tanpa harus kehilangan kualitas dalam pengambilan keputusan. Ciri budaya fleksibel adalah responsif, melibatkan dan beradaptasi serta berfokus pada kemampuan seseorang sebagai sebuah individu untuk terlibat dalam pemecahan masalah ketimbang kemampuan orang tersebut sebagai bagian dari struktur organisasi.

Sangatlah penting bagi sebuah perusahaan untuk menyadari jangkauan kemampuan dari karyawannya dan bagaimana menggunakan skil tersebut ketika diperlukan. Banyak orang yang menghargai kesempatan untuk mempertunjukkan kemampuan mereka dalam organisasi yang pada ujungnya akan membuat budaya fleksibel di perusahaan akan lebih baik lagi.

Organisasi yang ingin mendapat budaya fleksibel harus melatih kemampuan mereka dan mengkaji aksi yang diberikan untuk merespons ancaman dari kejadian, memastikan fleksibilitas structural yang cocok dan efektif. Pada akhirnya budaya fleksibel bercirikan sebagai berikut:

·        Mampu untuk menyesuaikan diri sendiri dalam menghadapi operasi kerja yang cepat dan beberapa bahaya yang muncul

·        Memiliki kemampuan untuk memodifikasi struktur yang konvensional menjadi struktur yang lebih setara

·        Memiliki tingkat keahlian yang sesuai untuk membuat penilaian dan keputusan

 

5.    Budaya Adil (Just Culture)

Budaya Adil merupakan sarana yang kuat untuk elemen-elemen lain dalam budaya k3. Harapan yang jelas, implementasi yang konsisten terhadap semua peraturan, proses investigasi yang adil serta respons yang adil terhadap mereka yang melanggar peraturan akan menjadi pesan yang kuat bagi seluruh karyawan tentang hak dan kewajiban mereka yang benar.

Penting untuk sebuah organisasi agar menetapkan batasan-batasan yang tidak jelas. Misalnya pada masalah kekerasan dalam tempat kerja atau kecanduan alcohol, batasan tersebut secara terus menerus bergerak dan dinegosiasi kembali. Bahkan, kasus-kasus pelanggaran yang seharusnya jelas seperti kecanduan narkoba, pengendalian yang dilakukan oleh organisasi dapat bervariasi. Organisasi bisa saja menghukum pencandu narkoba atau justru mengirimnya ke pusat rehabilitasi sebagai bentuk dukungan untuk karyawan dalam keadaan sulit tersebut.

Oleh karena itu, sangatlah penting untuk menetapkan batasan-batasan dalam organisasi dan mengkomunikasikan ke seluruh karyawan serta diterapkan secara konsisten.

 

Dikompilasi oleh : Charles Tambunan, S.T., M.T. (Widyaiswara Pertama)

Login to post comments

Lokasi Pusdiklat Minerba

Kontak Kami

Jl. Jendral Sudirman No 623
Bandung - Indonesia

Telp : 022-6076756
Fax : 022-6035506