Beranda

Metode “Coaching” Pada Diklat

23 Maret 2015

Akhir-akhir ini sering kita memikirkan tentang apa  peran coaching secara konkrit terutama dalam dalam suatu kediklatan ?

Selain hanya diukur dengan “bertanya”, karena  apakah saya dapat dikatakan sedang melakukan  coaching hanya karena saya “bertanya” kepada coachee atau peserta diklat ?

Tentunya Coaching bukan hanya “bertanya”, pada referensi-referensi yang membahas tentang Coaching, ada beberapa keahlian dasar untuk melakukan coaching yaitu: mendengarkan,  supporting, bertanya, inducing states (mempengaruhi), giving dan receiving feedback, yang berarti bukan diukur dari hanya “bertanya”, karena semua bidang akan bekerja lebih baik bila banyak “bertanya” untuk mendapatkan informasi yang jelas sebelum mencari cara/solusi atau menyelesaikan.

Kalau demikian, bila bukan “bertanya” yang menjadi tolok ukur, jadi bagaimana suatu kegiatan baru dapat dikatakan sedang melakukan coaching ? beberapa catatan kompilasi singkat dari beberapa referensi mengenai “coaching”.

 

Apakah “Coaching” ?

Coaching adalah proses mengarahkan yang dilakukan oleh seorang (coach) untuk melatih dan memberikan orientasi kepada seorang pegawai, peserta, atau coachee tentang realitas di tempat kerja atau kondisi organisasi dan membantu mengatasi hambatan dalam mencapai prestasi yang optimum (membina).

 

Coach?

Person atau orang yang melakukan “coaching”

 

Maksud coaching ?

COACHING untuk melatih/membina seseorang atau tim sehingga mampu:

·                    mengandalkan diri sendiri,

·                    berkreasi,

·                    menjadi pemimpin dari dirinya sendiri,

·                    mengoptimalkan performanya sendiri,

·                    menyadari apa yang melandasi ucapan dan tindakannya dan bagaimana mengolah pikiran dan perasaannya

·                    sehingga mampu menghasilkan tindakan dan ucapan yang berdaya

Intention dari coach pada saat proses coaching adalah:

It is not about me (the coach) but....it is about you (the coachee)

Seorang coach haruslah mempunyai karakter sebagai berikut :

·                    Yakin akan kemampuan  dan memahami ketidakmampuan diri-sendiri;

·                    Percaya pada orang lain dan secara tulus ingin melihat mereka berhasil;

·                    Kesediaan untuk menempati ‘urutan kedua’ dan tidak mencari popularitas;

·                    Empati, mampu melihat dari sisi pandang orang lain;

·                    Kepekaan, mengerti kapan harus ‘masuk’ dan kapan harus diam;

·                    Kesabaran dan kesediaan untuk meluangkan waktu untuk orang lain.

 

Coaching dikatakan baik ?

Proses coaching yang baik adalah mampu mempersiapkan individu/team yang dibina untuk mampu berkreasi atau mampu menghadapi situasi di lapangan/keadaan yang sebenarnya pada saat coach tidak ada disampingnya (lebihmandiri), meskipun demikian spirit/semangat/motivasi coach seakan-akan berada di dekatnya.


Prinsip “Coaching”

1.                 Setiap individu memiliki kapasitas pribadi untuk mencapai tujuannya;

2.               Setelah proses coaching seseorang akan lebih diperkuat dalam membuat pilihan-pilihansecara bijaksana dan bertanggungjawab serta mampu mempertanggungjawabkannya ;

3.                 Coaching adalah sebuah proses yang akan memperkuat seseorang memasuki perubahan dengan kesiapan yang lebih baik;

4.       Tidak berkaitan dengan permasalahan pribadi secara mendalam namun mampu membantu mengurangi resistensi terhadap perubahan;

5.                 Termasuk merubah persepsi seseorang ke arah yang lebih positif.

 

Perlunya “coaching” dalam diklat (Kepemimpinan)

1.         Setiap individu/tim yang akan melakukan perubahan membutuhkan coach; karena pekerjaan yang dilakukannya adalah tidak mudah;

2.            Perubahan dilakukan dalam kurun waktu yang bisa saja panjang; bahkan prosesnya bila memungkinkan bisa dilakukan hingga pasca diklat;

3.                 Perubahan berlangsung dalam situasi komplek;

4.   Setiap kemungkinan dan dinamika dapat saja terjadi dalam proses seseorang melakukan perubahan, disana mereka membutuhkan pembinaan/bimbingan;

5.               Bisa saja seseorang memiliki hambatan baik yang berasal dari dalam atau luar dirinya yang berpotensi mengganggu kesuksesan merealisasikan proyek perubahannya;

6.                 Coach diperlukan agar peserta diklat mampu memanfaatkan potensinya untuk melalukan perubahan di unit kerjanya;

7.                 Coach diperlukan untuk membimbing arah perubahan sehingga setiap peserta berhasil melakukan perubahan;

8.                 Coach memastikan bahwa proyek perubahan yang dilakukan sesuai dengan proses yang seharusnya;

9.                 Peserta dalam meminta bimbingan kapanpun, termasuk ketika mendapat kesulitan atau tidak mampu memanfaat potensi yang dimilikinya.

 

Coaching dalam diklat (Kepemimpinan) secara mendasar adalah  untuk membina peserta diklat sehingga mampu:

·                    mengandalkan kemampuan yang ada pada dirinya diri untuk dapat menyelesaikan proyek perubahan;

·                    Berkreasi dan berinovasi dengan memanfaatkan kelebihan yang dimilikinya;

·                    menjadi pemimpin perubahan (mengelola dirinya dan orang lain);

·                    mengoptimalkan performa diri dengan pencapaian milestone yang telah ditetapkan;

·              menyadari apa yang melandasi ucapan dan tindakannya dan bagaimana mengolah pikiran dan perasaannya sehingga mampu menghasilkan tindakan dan ucapan yang berdayaguna.

 

Terdapat ilustrasi mengenai letak perbedaan pendekatan seorang coach, mentor, counselor, dokter, dan konsultan terhadap aspek proses pemecahan masalah dan konten permasalahan, adalah sebagai berikut :

 

Kesimpulan:

·                    Proses Coaching melibatkan: Listening, Supporting, Questioning, Inducing States, Giving & Receiving Feedback dengan tujuan untuk “explore” (bukan menggali (yang terkesan kedalam saja) namun explore yang dapat keluar atau juga ke dalam) apa yang ingin dikembangkan dari dirinya, apa yang ingin dicapai, apa masalah yang ingin diselesaikan,dll.

·                    Hasil dari sebuah Proses Coaching adalah membuat coachee nya mampu berpikir untuk dirinya sendiri, mampu mencari solusi untuk dirinya sendiri, mampu mengenal belief/valuenya yang menghambat maupun yang memberdayakan sehingga tidak ada ketergantungan dengan coach.

·                    Prinsip dari Coaching adalah “it is not about me but it is about you”

·                    Intention dari coach pada saat proses coaching bagi peserta Diklat (Kepemimpinan) adalah: “Bagaimana membuat peserta Diklat Pim memanfaatkan kemampuanya dapat melakukan inovasi dan perubahan di instansinya”

 

Penyusun:

Mas Agung Wiweko, ST., MM., MT., (Widyaiswara Pertama-Pusdiklat Minerba)

Login to post comments

Lokasi Pusdiklat Minerba

Kontak Kami

Jl. Jendral Sudirman No 623
Bandung - Indonesia

Telp : 022-6076756
Fax : 022-6035506