Beranda

DAMPAK PENUMPUKAN, PENANGANAN DAN PENGGERUSAN BATUBARA

10 Maret 2015

Kegiatan penumpukan, penanganan (pengoperasian alat-alat berat) dan penggerusan batubara merupakan sumber utama terjadinya penurunan kualitas udara akibat emisi debu (partikel batubara). Disamping itu, penimbunan batubara (stockpile) juga dapat mengakibatkan pencemaran terhadap air tanah dan pembakaran spontan (spontaneous combustion).

 

Debu Batubara

Debu batubara adalah partikel halus berukuran micron yang dapat terbang terbawa angin. Pada kegiatan penanganan dan penggerusan, emisi debu batubara dapat terjadi tetapi pada radius terbatas di sekitar plant sehingga pengaruhnya bersifat lokal. Pada musim kemarau, emisi debu batubara akan semakin meningkat. Dampak utama dari debu adalah terhadap para pekerja akibat menghirup udara yang mengandung partikel debu batubara dan mengendap dalam saluran pernapasan sehingga dapat mengganggu sistem pernapasan.

Untuk menghindari dampak tersebut para operator harus menggunakan masker debu. Manajemen stockpile juga perlu dilakukan dengan baik, misalnya dengan sistem pengompakan (compacting) dengan buldozer dan penyiraman air (water spraying) secara periodik sehingga emisi debu berkurang.

 

Air Lindihan

Aliran cairan dari tumpukan batubara yang kena hujan dapat mencemari berisiko mencemari lingkungan. Data mengenai kualitas dan kuantitas air lindihan (leachate) air buangan tidak tersedia. Namun kualitas air lindihan tersebut tergantung karakteristik batubara, curah hujan, topografi dan drainase tumpukan. Logam besi biasanya terdapat paling banyak dalam air lindihan. Unsur logam berat seperti khrom, aiar raksa, magnesium terkadang terdapat dalam kadar yang kecil

Air asam (acid water) dapat ditimbulkan oleh tumpukan (stockpile) batubara, terutama apabila kandungan belerangnya tinggi. Oksidasi udara terhadap belerang menghasilkan oksida belerang yang kemudian terlarut oleh air hujan membentuk asam sulfat. Apabila larutan asam sulfat tersebut masuk ke dalam air tanah maka keasaman air akan meningkat dan menggangu masyarakat disekitarnya. Air tanah yang asam dapat mengganggu kesehatan apabila digunakan untuk keperluan sehari-hari. Untuk mengatasi dampak tersebut, air lindihan dari air hujan disalurkan ke penampungan dan dikontrol keasamannya kemudian dinetralkan sebelum dibuang. Disamping itu, analisis terhadap logam-logam berat sebaiknya juga dilakukan. 

 

Pembakaran Spontan

 

Pembakaran spontan dapat terjadi pada tumpukan batubara peringkat rendah antara lignit sampai subbituminus. Batubara peringkat rendah mempunyai sifat mudah hancur menjadi ukuran halus apabila terkena cuaca panas dan juga hujan. Pelepaskan moisture dan penyerapan air yang berulang-ulang mengakibatkan partikel batubara menjadi hancur sehingga luas permukaan bertambah dan lebih mudah teroksidasi (terbakar) oleh udara di dalam rongga tumpukan dan panas akibat beban batubara. Belerang dalam batubara yang berbentuk pirit FeS2 dapat teroksidasai menjadi Fe2SO4.7H2O menyebabkan hancurnya partikel batubara dan timbulnya panas yang selanjutnya mempercepat proses pembakaran spontan. Disamping risiko terhadap kebakaran lebih lanjut dan turunya kualitas batubara, asap yang ditimbulkan pembakaran spontan dapat mengganggu pekerja maupun lingkungan dan masyarakat di sekitar tumpukan batubara.

 

Apabila menangani batubara peringkat rendah dengan kadar belerang pirit yang tinggi maka risiko pembakaran spontan dapat diminimalkan dengan cara-cara berikut:

·       Membatasi tinggi stockpile, umumnya sampai maksimum 8 m agar suhu tumpukan tidak terlalu panas;

·       Mengkompakkan batubara selama penumpukan, menggunakan buldozer atau sejenisnya agar tidak ada rongga yang dapat dilewati hembusan angin (udara);

·       Menggunakan alat (stacker) yang dapat mencegah tendensi bongkahan batubara turun (menggelinding) pada bagian luar tumpukan sehingga membentuk lapisan (layer) yang permeabel terhadap aliran udara;

·     Menutup (sealing) bagian luar tumpukan misalnya dengan ter, bitumen atau bahan kimia agar aliran udara tidak dapat masukan ke dalam tumpukan batubara;

·          Memasang alat semacam pemacah angin pada sisi tumpukan batubara terkena hembusan angin;

·          Melakukan monitoring suhu tumpukan menggunakan thermokopel untuk peringatan dini (early warning).

 

Daftar Pustaka

Elliott, M.A., 1981. Chemistry of Coal Utilization. John Wiley & Sons, Inc. New York.

Lowry, H.H., 1963. Chemistry of Coal Utilization. John Wiley & Sons, Inc. New York

Ward, C.R.,   1984. Coal Geology and Coal Technology. Blackwell Scientific Publications. Melbourne

 

Disusun Oleh:

Rachmat Saleh (Widyaiswara Luar Biasa)

 

Login to post comments

Lokasi Pusdiklat Minerba

Kontak Kami

Jl. Jendral Sudirman No 623
Bandung - Indonesia

Telp : 022-6076756
Fax : 022-6035506